Jumat, 18 Januari 2013

Bunga kehidupanku.



Sekolah ini sudah mulai lusuh rupanya, 4 tahun sudah aku tak pernah menginjak tanahnya lagi. Terhitung sejak kelulusan kami.
“hey kim, ngapain sih lo bengong disitu? Hayo masuk!” seru Mika melangkah kembali lalu menarik paksa lengan kananku. Dia selalu sukses membuyarkan lamunanku. “lo tuh gak pernah berubah ya Mik, selalu aja antusias.” kataku jengkel. “helooo Kimberly, lo gak kangen apa sama temen – temen SMA kita.” dia selalu saja menemukan kalimat untuk membalikan aku. Susah memang bicara dengan seorang penulis kenamaan seperti Mika Prastika ini.

Aku meminta Mika untuk tetap berjalan perlahan dan tidak langsung ke Aula tempat dimana acara reuni digelar. “kita keliling dulu ya say.” pintaku setengah memohon ke pada mika.
Kaki kami pelan – pelan berjalan menyusuri koridor gedung A SMA Satya, seperti tahu dimana jejak – jejak pernah kami tinggalkan dan kami menapakinya kembali. Mengidarkan pandangan, menyisir setiap titik juga sudut – sudutnya, banyak kenangan manis juga pahit berasal dari tempat ini. Kejadian yang saat ini hanya bisa dikenang.

Pandanganku terpaku disatu titik, gudang penyimpanan alat olahraga, tempat favoritku. Dulu ada pria yang setia membawakanku makan siang, Orang yang paling tahu kegemaranku menghabiskan waktu istirahat dengan melukis disana. “WOOYY... bengong aja.” lagi – lagi Mika dengan kebiasaannya. “kenapa Kim, lo mau kesana?” aku menolak tawarannya dengan gelengan tidak yakin. “tar nyesel loooohhh. Gak papa, anak – anak juga belum kumpul kok.” aku jelas tahu, kali ini Mika tengah meledekku. Aku tidak akan terpancing, tidak!


“Kimmmmmmyyyy... Miiikkkkaaaaaaa..” suara lantang menyerukan nama kami, ternyata suara itu milik wanita mungil dengan rambut sebahu, Pingkan, masih belum berubah, selalu ceria dan apa adanya. Dibelakanganya berdiri dua pria gagah, dengan setelan kemeja rapih namun tetap trendy. Melambaikan tangan, memamerkan gigi – gigi depan mereka yang rapih. Sosok yang tak asing untukku, wajah – wajah yang aku rindukan. Lintang dan Biru.

Kami saling bergantian memeluk, beginilah kami, bagi kami pelukan adalah media untuk mentransfer kekuatan untuk yang lainnya. “benarkan, hidup mu terus bahagia.” bisik biru lirih ditelingaku “terimakasih” balasku lirih pula. Biru adalah saksi untuk sebab tangis dan tawaku. “apa kabar kalian?” tanyaku kepada 3 orang sahabat karibku. “terus mencoba untuk jadi manusia sukses yang bermanfaat.” jawab mereka kompak. “haahaahaaa...” tawa kami membuncah.
“gue kangen banget sama kalian guys..gals..” ini kalimat pertama yang Lintang keluarkan. Manusia irit kata yang dermawan. Aaahh.. aku merindukannya, merindukan sahabat – sahabatku.

“perhatian.. semua tamu diharapkam berkumpul di Aula, acara akan segera kita mulai..”

Suara itu seperti magnet, menarik langkah kami untuk berjalan menuju sumbernya. Aku terpaku, aula sudah di sulap menjadi ruang pertemuan dengan meja – meja bundar dengan 10 kursi lipat yang mengelilinginya. Warna taplak meja yang merah marun sungguh serasi dengan rangkaian lili putih yang bertenger manis diporos meja. Cantik. Tersebar gambar – gambar satu angkatan kami yang sudah terbingkai indah di sisi kanan dan kiri aula, rajin sekali para panitia acara itu.

Beberapa wajah ku kenal, segera ku salami dan menanyakan kabar, sebagian lainnya hanya bisa menerima senyuman termanisku karena Mc meminta kami untuk tenang.
“Lo liat gak Mik, baju pasangan Mc itu gak ngematch sama sekali.” seperti biasa Mika lah yang paling perhatian soal fashion. “iyah, itu yang pere kenapa deh rambutnya dimodelin begitu? Kan jadi keliatan lebih tua dari umurnya.” timpal Pingkan yang mulai terpancing oleh Mika. “emang lo kenal dia Ping? Umurnya berapa?” Mika memburu Tanya. “ciyeeehh, Mika kepo. Lo tau gak Mik? kepo kan fans yang tertunda.”
“eeehhh, sompret!! seriusan, lo kenal Mc cewe nya?” Mika masih juga penasaran. “ya enggak laaahh.. hahahaa” Pingkan asal. Mika yang kena dikerjai Pingkan bukannya marah malah cekikikan.

Sudah mulai sore, waktunya jamuan makan. Diiringi penampilan band – band miliki angkatan kami dan beberapa yang hanya sekedar menyumbang suara. Tiba – tiba aku kehilangan makluk – makluk terkasihku, aneh padahal hanya aku tinggal untuk mengambil makanan.
“test.. test.. 1..2..3..” pandanganku tertarik oleh sumber suara yang tengah cek sound. Belum juga tersadar seorang wanita menyebut namaku. “Ini lagu untuk sahabat kami, hadiah untuk kepulangannya ke indonesia, kepelukan kami dan untuk semua teman – teman disini, FRIEND dari Mocca. Sahabat adalah bagian lain dari diri kita sendiri.” ini lagu yang sering di nyanyikan akustikan bersama mereka,  ~ If anyone can fill my world with joy and happiness ~ and cast away all of my loniless ~ always there beside me when I am down and never left my face eith frow. ~

Mereka turun bersama riuh tepuk tangan, sebagian menggunakan siyul. Mereka kembali ke meja, Satu persatu memelukku dengan menyelipkan setangkai bunga matahari ke tanganku, manis, mereka mengingatkan bunga yang menjadi sumber semangatku. “Bunga matahari, indah, tegar, tahu diri.” kataku bangga.

“hey.. sorry aku telat.” 5 pasang mata termasuk mataku hampir saja melompat indah keluar dari tempatnya. Danish, dia ada disini. Berdiri gagah di depan mata kami, setelah 4 tahun menghilang tanpa kabar, dia kembali. Biru menatapku dan menggenggam tanganku, senyumku bilang padanya “aku baik – baik saja.” kenangan - kenangan dulu kembali menguat. perih, pilu.
“ayo gabung Den.” kata Biru ramah. “gimana kabar kalian?” nada canggung berbaur dalam suara Denish. Pertanyaan yang tepat untuk mencairkan suasana. “ruuuuaaarrr biasaaahh.” jawab Lintang, Mika dan Pingkan kompak.

Rupanya acara sudah hampir pada penghujung waktu, hampir jam 7 tepat seperti yang dijadwalkan panita acara reuni akbar ini. ~~ I dont wanna miss anything.. I dont wanna miss anything.. ~~ sepotong lirik Secondhand Serenade mengalun lirih dari ponselku, tertimpah suara riuh dalam ruangan. “hallo baby,, mau nyusul kesini sayang? Yasudah, minta di antar sama pak Sugi ya. Hati – hati yaa..” ku akhiri panggilan telpon dan kembali bernostalgia bersama kawan – kawanku, sekilas aku melihat Denish menyelidik kearahku.

Acara sudah usai, kami berhamburan meninggalkan ruangan.

“bundaaaaaaaaaaa....” gadis kecilku berlari riang memanggilku. Dia lah buah hatiku, alasan ku untuk tetap hidup dan berusaha memenuhi apa yang dia butuhkan. "Baby kasih salam dulu sayang.” ini kali pertama putri ku bertemu langsung dengan sahabat – sahabatku, tapi mereka rutin berkomunikasi melalui video call. “ayah biru, itu siapa?” tanyanya lugu. “aku belum pernah liat.” jari mungilnya terarah kepada sosok pria yang memang tak pernah dia temui.
“belum kenal ya? sana salam sama ayah Denish.” langkah riangnya melaju cepat menghampiri Denish yang sudah berjongkok bersiap menyambutnya. “halo sayang, sini peluk ayah Danish.” sapanya lembut. “kok ayah Denish gak pernah kelihatan sih.” celotenya heran. “iyah, ayah lama kehilangan kontak sama bunda. Nama kamu siapa? Terus umur kamu berapa? Kok pinter banget sih?” tanyanya penasaran. “Esther. Bunda bilang Esther jalan 4 tahun Yah.” jawabnya bersemangat. Air muka Denish berubah heran. “namanya Esther Putri Mahardika.” sambungku. “cantik kan? Mata dan cara dia tertawa mirip kamu Denish Mahardika.” aku sungguh menikmati wajah Denish yang tercekat. Dia pernah pergi tanpa pamit Meninggalkan ku yang belia, labil, dan ketakutan bersama janin dirahimku yang masih seumur jagung. dan saat ini dia datang tanpa pertanda.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar